Sejarah Terbentuknya Skripsi: Dari Zaman Filsuf Sampai Mahasiswa yang Lupa Pulang
Pernah nggak sih kamu bertanya sambil menatap layar laptop jam 2 pagi:
“Siapa sih yang pertama kali menciptakan skripsi, dan kenapa hidupku harus berakhir di Bab IV?”
Tenang. Kamu tidak sendiri.
Dan artikel ini akan mengajak kamu menelusuri sejarah terbentuknya skripsi, dari masa kuno sampai akhirnya jadi momok mahasiswa tingkat akhir.
Awal Mula Skripsi: Ketika Filsuf Belum Kenal Revisi
Kata “skripsi” berasal dari bahasa Latin scribere yang artinya menulis.
Di zaman Yunani Kuno, para filsuf seperti Plato dan Aristoteles sudah terbiasa menulis gagasan, argumen, dan pemikiran kritis.
Bedanya dengan kita?
-
Mereka menulis untuk mencari kebenaran
-
Kita menulis untuk mencari tanda tangan dosen pembimbing
Di masa itu, belum ada Bab I–V, belum ada SPSS, dan yang paling penting:
belum ada komentar “tolong diperdalam” tanpa penjelasan.
Abad Pertengahan: Skripsi Mulai Resmi, Mahasiswa Mulai Panik
Masuk ke abad pertengahan, terutama di universitas Eropa seperti University of Bologna dan Paris, skripsi mulai dijadikan syarat kelulusan akademik.
Mahasiswa diwajibkan:
-
Menyusun argumen ilmiah
-
Mempertahankan pendapat di depan profesor
-
Siap mental dan fisik
Di sinilah skripsi berubah dari sekadar tulisan menjadi ujian kesabaran dan keberanian.
Kalau sekarang disebut sidang skripsi, dulu itu benar-benar sidang…
Bedanya, dulu tidak ada pertanyaan:
“Kamu yakin data ini valid?”
Skripsi Modern: Ilmiah, Sistematis, dan Penuh Air Mata
Memasuki abad ke-19 hingga sekarang, skripsi berkembang menjadi karya ilmiah yang:
-
Sistematis
-
Metodologis
-
Penuh teori, tabel, dan grafik
Lahirlah struktur sakral:
Bab I sampai Bab V, yang kalau dibaca berurutan bisa bikin:
-
Bab I: Semangat
-
Bab II: Mulai ragu
-
Bab III: Bingung
-
Bab IV: Nangis
-
Bab V: Pasrah
Di Indonesia, skripsi menjadi gerbang terakhir menuju gelar sarjana.
Bukan hanya soal ilmu, tapi juga:
-
Konsistensi
-
Mental baja
-
Kemampuan bertahan hidup dengan kopi dan mie instan
Kenapa Skripsi Tetap Dipertahankan?
Meski sering dibenci, skripsi tetap eksis karena punya tujuan mulia:
-
Melatih berpikir kritis
-
Membiasakan riset ilmiah
-
Mengajarkan tanggung jawab akademik
-
Menguji kesabaran tingkat dewa
Skripsi bukan sekadar tugas, tapi ritual peralihan dari mahasiswa biasa menjadi sarjana yang pernah berkata:
“Nanti aja lanjut revisinya.”
Skripsi dan Drama: Kisah Cinta yang Toxic tapi Berkesan
Tidak ada skripsi tanpa drama:
-
Judul ditolak berkali-kali
-
Data hilang sebelum deadline
-
Dosen pembimbing slow response
-
File Word rusak di hari H
Namun anehnya, setelah lulus, banyak yang berkata:
“Capek sih, tapi kangen juga.”
Karena skripsi bukan cuma tentang kelulusan,
tapi tentang bertahan, berproses, dan akhirnya melepaskan.
Kesimpulan: Skripsi Itu Sejarah Hidup
Sejarah terbentuknya skripsi adalah sejarah manusia belajar berpikir, meneliti, dan bersabar.
Dari filsuf kuno hingga mahasiswa zaman now, skripsi tetap menjadi simbol perjuangan intelektual.
Jadi kalau hari ini kamu lagi capek ngerjain skripsi, ingat satu hal:
👉 Kamu bukan lemah, kamu sedang mencetak sejarah pribadimu sendiri.
Semangat, pejuang skripsi.
Bab IV boleh berat, tapi wisuda lebih nikmat 🎓✨
Referensi Sejarah dan Konsep Skripsi
-
Creswell, J. W. (2014).
Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches.
Thousand Oaks, CA: Sage Publications. -
Palmer, R. R. (2014).
The History of the Modern University.
Princeton: Princeton University Press. -
Rüegg, W. (Ed.). (2004).
A History of the University in Europe: Volume III – Universities in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries.
Cambridge: Cambridge University Press.
